Kehilangan Lagi


Entah sudah berapa kali hati ini rasanya hancur berkeping-keping. Seolah tak ada harap. Seolah lelah untuk mencintai dan memiliki ketika akhirnya harus dihadapkan dengan yang namanya perpisahan.

Sudah sering kali aku merasakan sakitnya ditinggalkan oleh mereka-mereka yang ku kasihi. Kakekku, sahabatku, ayahku, dan bahkan kucing-kucingku yang dengan polos dan setianya menemaniku ketika aku merasa hidupku sedang tidak baik-baik saja. 

15 Maret 2021 - Patah

Hari ini aku sehancur-hancurnya. Aku kehilangan salah satu kucing kesayanganku. Belum genap satu tahun bahkan aku bersamanya. Tingkahnya yang lucu, baik, suaranya yang kecil menggemaskan dan wajahnya yang imut membuatku dan adikku menamainya Si Imut. Dia salah satu kucing kesayangan adikku. Lagi-lagi yang ku benci itu. Virus! Mereka menjadi momok paling menakutkan yang selalu menghantui para cat lovers di manapun itu, termasuk aku. Aku yakin, mutmut (imut) terkena virus mematikan itu, mengingat sudah bertahun-tahun aku berjibaku merawat kucing yang sakit dan membesarkan mereka.

Virus itu tidak bisa mati

Ya, virus mematikan untuk para kucing ini namanya Panleukopenia aku biasa menyebutnya Panleu. Berawal dari kucingku Simba yang tertular dari salah satu kucing liar di sekitar rumahku. Simba tertular bersama adiknya, Tutles. Aku berjuang sebisaku merawat Simba ketika Tutles sudah tak bisa lagi aku selamatkan. Tutles pergi untuk selamanya dihadapanku. Aku melihatnya sendiri, betapa sakaratul maut hewan kesayanganku itu tak jauh berbeda dengan manusia. Menyakitkan! Dan siapapun yang melihat pasti tak kuasa untuk menahan tangis. Jika bisa kuringankan rasa sakit itu ingin sekali aku membantu mereka. 

Setelah Tutles mati, rasanya aku dihantui dengan kematian kucing-kucingku yang lainnya. Aku berjuang mati-matian merawat Simba agar nyawanya masih bisa kuselamatkan. Akhirnya Simba selamat. Sudah 2 tahun sejak dia berjuang bersamaku. Dia sehat hingga kini, tumbuh menjadi jantan jagoan kesayanganku.

 

Sayangnya, virus jahat ini tidak begitu saja mati. Si panleu jahat ini masih bisa bertahan hidup bahkan dua tahun lamanya. Tak mati hanya dengan sabun atau detergen. Disinfektan pun harus dengan jenis khusus. Satu tahun setelah Simba sembuh dari sakitnya, virus itu ternyata mengenai adik barunya yang bahkan belum genap satu tahun. Tiga adik barunya yang saat itu masih berusia 5 bulan. Si jantan Mayonise, si betina Kilo, dan Moka. Lagi-lagi aku harus kehilangan kucing kesayanganku. Rasanya lelah dan marah terus berjibaku dengan virus satu ini. Mayonise dan Kilo tak berhasil ku selamatkan. Hanya hitungan jam mereka tak mau makan, berbau sangat busuk khas seperti ketika Tutles dan Simba dulu, keluar muntahan putih berbusa, dan keluar cairan dari dubur mereka. Sementara itu, satu saudaranya yang masih bisa bertahan adalah Moka. Aku berjuang lagi, hampir setiap jam aku spet makanan, spet madu, spet air, obat-obatan, transfer factor, vitamin, telur rebus, searching sana sini, hingga mengajak ngobrol dan memberikan semangat hidup untuk Moka. Alhamdulillah Moka bisa survive hingga sekarang.

 

Tetapi, patah hati terberatku adalah hari ini. Lagi-lagi setelah beberapa bulan Moka sembuh, Imut tiba-tiba tidak mau makan. Terhitung sejak tiga hari yang lalu. 12 Maret 2021. Ia menunjukkan gejala lesu, tidak mau makan, dan responnya berkurang. Imut yang biasanya lincah dan sangat suka digendong atau dielus itu berubah menjadi pendiam. Kondisinya memburuk, sangat cepat, lemas sekali, bahkan tak pernah ku sangka dia bakal pergi secepat itu. Tiga hari kemudian, tepatnya hari ini 15 Maret 2021 imut pergi untuk selamanya di perjalanan menuju ke vet. Dia seperti ingin pergi menunggu aku berada didekatnya. Ia pergi di hadapanku, sangat cepat, dengan kondisi yang bahkan aku pikir dia masih akan bertahan. 

Air mata itu tak lagi bisa kubendung. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam mobil menuju ke rumah. Aku masih merasa dia hidup, dan terus membelai kepala dan bulu halusnya. “Nak, kamu masih hidup kan. Badanmu masih baik-baik aja kan. Nak bangun.” Tapi tak ada respon, tak ada lagi hembusan nafas. Dia sudah pergi, yang tak bisa lagi pulang ke rumahku lagi. 

Lagi-lagi aku menyalahkan diriku sendiri, kenapa aku tidak becus memberikan kehidupan yang baik untuk mereka. Kenapa aku tidak bisa menjaga mereka hingga mereka dapat bertahan lama di dunia ini.

Kehilangan berkali-kali itu rasanya membuatku ingin berhenti untuk memelihara kucing. Aku terlalu lelah dan sakit untuk kehilangan mereka. Bukan aku tak lagi sayang kucing. Aku masih akan terus peduli terhadap kucing yang aku temui dimanapun aku berada. Bahkan aku masih akan terus menjalankan kegiatan streetfood ke kucing liar di kotaku. Tapi rasanya aku sudah tidak sanggup lagi melihat rasa sakit itu.

Mungkin bagi sebagian orang yang membaca ini dan tidak terlalu suka dengan kucing, menganggap bahwa aku terlalu berlebihan. Tetapi kenangan yang ku habiskan dengan mereka, dan setiap tingkah lucu nan menggemaskan mereka, rasanya tak bisa dibayar dengan uang. Mereka sama halnya dengan manusia, bahkan acapkali mereka lebih mengerti kita, dan lebih sayang tulus kepada kita.

Untuk Mut-mut imutku, hari ini kamu telah pergi ke surga Allah. Tunggu mbak di sana ya. Mbak sayang kamu. Selamat berjumpa dengan kak Tutles, Mbak Kilo, Kak Mayo, dan dik Tera. Semoga kamu jauh lebih bahagia di sana. 


Sejujurnya aku masih tidak baik-baik saja

Komentar