Anabul itu telah mengubah pandanganku
Di dalam lingkungan masyarakat Jawa, salah satu binatang peliharaan nan lucu menggemaskan ini seringkali dianggap pembawa mimpi buruk bagi kaum hawa, bulunya dianggap berperan besar dalam 'kemandulan' para perempuan. Padahal nyatanya, belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa bulu kucing itu dapat menimbulkan kemandulan atau sulit memiliki keturunan. Beberapa yang lainnya mengklaim bahwa bulu pada kucing mengandung virus tokso yang dikenal dapat menghambat kesuburan pada kaum perempuan. Lantas bagaimana menurut pandangan anda?
Dulunya, anggapan yang beredar di masyarakat sejak puluhan tahun yang lalu itu sempat merasuki pikiran saya. Dan berhasil membuat saya sedikit takut, bahkan tidak menyukai hewan berbulu tersebut. Tetapi hal tersebut bukan mendorong saya untuk membenci hewan peliharaan satu ini. Saya hanya tidak mau memegang dan cenderung menjauh ketika didekati. Takut jika ayah saya melihat, maka ayah akan mengomeli saya dan mengatakan 'awas bulunya bahaya buat kamu, nduk'
Nyatanya ayah yang seorang pengajar biologi pun juga termakan dengan mitos tersebut.
Hingga suatu hari semua berubah.
Ketika libur panjang semasa kuliah, saya memutuskan untuk pulang kampung.
Beberapa minggu di rumah, tak sengaja saya melihat seekor kucing kecil berwarna putih hitam tidur dengan pulasnya di tembok pagar rumah saya. Entah siapa pemilik kucing tersebut, saya bahkan tidak menemukannya hingga sekarang. Berawal dari rasa iba karna badannya yang kecil dan kurus, saya memutuskan untuk memberikan ikan goreng, lauk makan siang di rumah kami hari itu, dan susu di dekat tempat dia terlelap. Tetapi, setiap kali dia menyadari langkah kaki dan kedatangan saya, dia cepat-cepat melarikan diri.
Beberapa hari saya berusaha untuk mendekatkan diri dengan si kucing kecil, yang hampir tiap siang datang untuk tidur di tembok pagar rumah saya. Lama kelamaan karena merasa saya bukan lagi ancaman bagi dia, dia merasa aman dan justru mengeong tiap kali saya datang. Tak hanya itu, dia mulai mengikuti saya kemanapun saya melangkah.
Ayah dan ibu awalnya tidak mengizinkan saya untuk memeliharanya. Mengingat kami tidak pernah memelihara kucing sebelumnya. Takut pipis dan pup nya bau dan mengganggu orang lain.
Tidak hanya saya saja yang menyukai tingkah lucu kucing yang saya beri nama Tuci itu, tetapi adik saya pun ternyata luluh dengan tingkahnya. Kami selalu bermain bersama setiap sore. Hingga rasa ikatan itupun terjalin, menjalar kepada seluruh orang yang ada di rumah. Ayah, ibu pun mulai luluh dan mengizinkan saya untuk memeliharanya, bahkan mengizinkan ia tidur di dalam rumah dengan syarat saya mampu menyediakan litterbox dan mau untuk membersihkannya. Saya pun setuju.
Hari demi hari, Tuci mulai menjadi anggota keluarga kami. Bahkan Tuci sudah mulai tidur di kasur saya ataupun di kasur adik. Lama kelamaan Tuci semakin akrab dengan semua orang di rumah. Dan hal yang membuat Ibu dan Ayah takjub adalah, Tuci selalu menunggu Ibu pulang di depan pintu rumah setiap kali jam menunjukkan pukul 1 siang. Tiap kali mendengar suara motor spacy Ibu, ia cepat-cepat berlari kegirangan dan menghampiri Ibu. Nanti, ketika pukul 2, ganti ia menunggu ayah pulang, dan terakhir pada pukul 3 ia akan dengan sabar menunggu adik pulang dari sekolah. Rutinitas itu dilakukannya hampir setiap hari. Tidak hanya sibuk menjemput semua anggota keluarga, Tuci pun memiliki keunikan tersendiri. Kami memang membebaskannya untuk main di luar rumah. Tetapi ketika malam hari, sebisa mungkin saya selalu mengajaknya bicara dan berpesan kepadanya untuk pulang pada pukul 10 hingga 11 malam tepat, karna jika ia terlambat, maka pintu rumah akan ditutup dan ia terpaksa tidur di luar rumah. Seolah paham dengan semua perkataan yang saya ucapkan, Tuci selalu pulang tepat pada waktunya.
Tidak cukup sampai disitu, ada hal spesial yang dimiliki oleh kucing jantan nan tampan itu. Ia selalu membangunkan Ayah tepat pukul 3 pagi, sehingga ayah dapat menunaikan sholat sunnah tahajud. Dan membangunkan ibu ketika adzan subuh, meminta untuk dibukakan pintu agar ia bisa bermain di luar rumah.
Oh ya, ada lagi hal yang membuat seisi rumah bahkan hampir tidak percaya dengan kepintarannya. Tuci pernah membawa seekor kucing kecil yang tertabrak motor dan berlumuran darah, dia menggendongnya dan membawanya kepada Ibu. Dengan tatapan matanya penuh kebingungan dan gelisah, dia terus meminta tolong, mengeong dengan suara lirih,dan sesekali berputar kebingungan, berteriak teriak meminta pertolongan. Sayangnya, kucing kecil itu tidak bisa tertolong karna kondisinya sudah terluka cukup parah.
Adakah yang memiliki kucing spesial seperti Tuci?
Sayangnya. Tuhan ternyata lebih menyayangi Tuci. Tahun 2017, Tuci harus kembali ke surga setelah luka parah karna diserang kucing lain. Dia pulang ke rumah dalam keadaan luka, telinganya berlubang dan badannya lemas. Saya sempat membawanya ke dokter, tetapi anabul kesayanganku itu tidak bisa diselamatkan. Sebelum ajalnya tiba, Tuci memilih meninggalkan rumah dan bersembunyi. Kami semua bahkan tidak dapat menemukan jasadnya hingga sekarang.
Aku dan ayah sudah berusaha mencarinya hingga berminggu minggu setelah ia menghilang. Tetapi nihil. Kami tidak menemukannya. Memasang selebaran, memposting di grup RT, menanyakan kepada tetangga pun sudah kami lakukan. Tetapi kami tidak berhasil menemukannya.
'Jika Tuci memang masih hidup, semoga suatu saat dia bisa kembali kepada kami. Tetapi jika Tuci memang sudah bertemu dengan penciptanya, kami pastikan dia sudah berbahagia di sana'
Terimakasih atas kenangan indah yang kamu berikan kepada Mbak, Tuci. Dan terimakasih, karna semenjak bertemu kamu, Mbak jadi semakin mencintai dan menyayangi semua jenis kucing. We love you.
Komentar
Posting Komentar