Juang dan Janji
Saya masih ingat betul. Dua tahun silam, bau obat, tusukan jarum suntik, dan perihnya tenggorokan yang lecet paska dimasukkan selang oksigen masih membekas hingga saat ini. Bahkan suara tit...tit...tit dari mesin pemantau jantung masih menjadi momok yang menakutkan bagi saya. Setelah ujian sakit itu, saya sangat membenci micin dan segala tetek bengek makanan berbahan pengawet yang sebelumnya tak terkontrol saya jejalkan dalam tubuh. Ya, itulah pertama kalinya saya menjalani operasi berat dalam hidup. Sejujurnya, saya sangat kapok. Bahkan hari itu bisa jadi saya berada pada pilihan berhasil atau gagal, hidup atau mati. Untunglah kepiawaian tangan dokter Mirza dalam mengangkat penyakit yang bersarang di tubuh saya itu berhasil dengan sangat mulus.
Ibu dan mas yang sejak lama menunggu di depan ruang operasi, menghampiri dengan muka-muka cemas. Mas tersenyum ke arah saya, lesung pipitnya yang membuat saya jatuh cinta itu nampak muncul malu-malu, dan sedikit mengurangi rasa nyeri di area bekas jahitan yang masih basah. Suster yang sibuk mendorong ranjang saya menuju kamar inap menjelaskan jika kondisi saya jauh lebih stabil dibandingkan dengan pasien-pasien operasi pada umumnya. Tidak muntah, tidak pusing ataupun sibuk mengaduh kesakitan. Hal itu bisa jadi karna semangat saya untuk sembuh dan kepercayaan saya bahwa seluruh anggota keluarga dan lelaki yang saya cintai mendukung penuh kesembuhan saya.
Setelah berada di kamar inap pasien, mas selalu berada di samping ranjang, menemani saya, sesekali bergantian dengan ibu. Saya merengek meminta diambilkan minum. “Sedikit saja, sedikit saja.” Rengek saya seperti anak kecil kepada mas. Akhirnya untuk mengalihkan keinginan saya itu, mas mengajak melakukan hal konyol, kami sibuk menghitung suara kentut yang saya keluarkan, berharap jika semakin banyak kentut yang kami hitung, maka kami dapat meyakinkan ketua perawat untuk segera mengijinkan saya minum.
Kekhawatiran saya tentang kondisi setelah keluar dari rumah sakit membuat saya terus melontarkan pertanyaan pertanyaan yang sama ke arah laki-laki sabar berambut cepak di depan saya. "Mas, masih mau kan sama aku? masih cinta kan sama aku? Meskipun kondisiku berbeda dari sebelumnya?"
Mas hanya mengangguk sembari tersenyum. Karna lelah terus meyakinkan kepada saya bahwa dia akan menerima saya dengan apa adanya. Tidak peduli dengan kondisi saya.
Jika teringat dengan pertanyaan-pertanyaan saya dan jawaban mas, saya selalu tersenyum. Nyatanya, omongan-omongan dan janji yang dia ucapkan dua tahun silam bukan hanya omong kosong. Awal bulan lalu dia bersama keluarga besarnya datang, meminta izin kepada ibu untuk melamar saya. Ah, jika saja ayah masih ada. Mungkin mas akan memohon izinnya kepada laki-laki yang membuat saya jatuh cinta untuk pertama kalinya itu. Sebelum meninggal, ayah memang selalu menawari saya untuk menikah dengan mas. Selain pesan dari dokter, mungkin ayah ingin segera melihat kami menjadi pasangan halal.
Tak kusangka jika tawaran ayah itu adalah permintaan terakhir dari beliau yang belum bisa saya kabulkan. Setelah acara lamaran itu, kedua keluarga besar yang awalnya tidak saling mengenal satu sama lain, bersepakat bahwa kami akan melangsungkan pernikahan dua bulan lagi. Dengan keputusan itu, kami berdua tersenyum lega. Jika kami memang berjodoh, maka Allah pasti akan memudahkan segala jalan kami menuju ke arah sana.
Komentar
Posting Komentar