Teruslah Melakukan Kebaikan
"Jadi orang baik dan disukai oleh banyak orang itu tidaklah mudah. Apalagi ketika hidup dengan orang-orang yang berbeda-beda asal usul dan karakternya. Tetapi, tetap berbuat baik adalah kewajiban"
Siang ini aku dan mas pergi keluar. Pengen sekali makan mendoan panas yang dicocol dengan saus kecap pedas langganan kami. Selesai membeli satu besek mendoan, mas mengajakku mampir ke rumah orangtuanya yang kebetulan masih satu kota.
Asik ngobrol ngalor ngidul dengan bapak mertua, tiba-tiba telfon mas berbunyi. Ada panggilan dari adik di hp mas. Mas mengangkat, suara di sebrang telfon memberikan kabar penting dan mas menjawabnya dengan suara kaget, pun cemas.
"Ada apa mas? Kenapa? Siapa? Kenapa?" tanyaku panik kepada suamiku.
"Pak Oyom meninggal, sayang" jawabnya dengan suara sedih.
Kami bergegas pulang untuk mengecek keadaan di rumah tetangga yang hanya berjarak dua rumah di kanan kami itu.
Dalam kondisi masih tidak percaya dan panik, mas mengendarai motor dengan kencang. Berharap agar cepat sampai di rumah dan mengecek kebenaran berita itu.
Benar saja. Kondisi sudah ramai. Orang-orang sibuk. Mengeluarkan kursi dari rumah Pak Oyom, menata drum untuk memandikan, beberapa yang lainnya masih terlihat syok dengan kabar tersebut.
Pak Oyom adalah sosok yang dikenal baik di lingkungan kami. Dulu, ketika ayah masih hidup, mereka berdua selalu pergi jamaah di mushola kompleks bersama. Bahkan ketika ayah tiada, Pak Oyom masih suka menyapa keluarga kami dan bercanda ramah tiap kali lewat di depan rumah, bahkan selalu membawakan nasi berkat ketika diadakan hajatan untuk bapak-bapak. Semua orang yang beliau temui selalu disapanya ramah, atau sekedar melontarkan guyonan guyonan kecil untuk mencairkan suasana.
Mas saja yang baru menikah denganku dan baru genap satu tahun beradaptasi di lingkungan rumahku, sudah akrab dengan Pak Oyom. Mereka selalu duduk bersama mengobrol tentang permasalahan dan kejadian sehari-hari setiap sore ataupun ketika mas sedang tidak lembur malam. Pak Oyom pun tak segan meminta tolong kepada suamiku itu, mengingat tenaganya jauh lebih kuat, tentu saja karena masih muda. Setiap rapat pun, Pak Oyom selalu mampir untuk mengajak mas berangkat bersama. Persis ketika dulu ayah masih ada.
Kepergian Pak Oyom adalah hal yang begitu mengagetkan untuk warga di kompleks kami. Karena dua hari sebelumnya, beliau masih sibuk mengajak mas dan bapak-bapak lainnya untuk memasang bendera kemerdekaan. Agar kompleks kami terlihat meriah, katanya.
Beliau juga masih menyelenggarakan malam tirakatan di depan rumahnya bersama bapak-bapak. Atau bahkan pagi hari tadi, beliau masih sempat duduk di pos ronda depan rumahnya, sembari melihat sekeliling seperti biasanya. Bakda dzuhur tadi, beliau mengeluh sesak kepada mbak yang bekerja di rumahnya. Dan tak lama, beliau telah berpulang. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Ibu-ibu berbondong-bondong datang.
Mengajak yang lainnya untuk segera membuat rangkaian bunga. Aku duduk di tikar, di samping ibuku. Sembari membantu menggunting daun pandan.
Banyak sekali obrolan-obrolan baik tentang Pak Oyom. Beliau orangnya baik, ramah dan 'ngemong warga'. Tak sedikit pula yang merasa kehilangan dan memikirkan mengenai kelanjutan kompleks yang akan sepi karna kepergian beliau. Ya, hari ini kompleks kami kehilangan satu lagi sesepuh penggerak warga.
Bahkan salah satu tetangga mengatakan kalau anaknya yang masih sekolah dasar saja sudah merasa kehilangan sosok beliau, karena sifat friendly nya kepada anak kecil.
Obrolan itu perlahan-lahan menyambung dengan kepergian ayahku. Tiba-tiba, cepat, mereka merasa kehilangan. Dan bahkan tak sedikit yang mengatakan bahwa orang baik akan pergi lebih dulu dan lebih cepat. Ayah dan Pak Oyom, keduanya adalah orang yang sangat baik.
Tiap kali orang-orang membicarakan tentang kebaikan ayahku, dan kepergian beliau untuk selamanya, sejujurnya aku selalu menahan air mataku untuk tidak tumpah membasahi pipiku. Meski sesekali aku menghela napas karna saking beratnya menahan tangis.
Di luar sana, ada beberapa orang yang terkadang tidak menyukai ayah atau keluarga kami. Ada pula yang menjelekkan atau melakukan fitnah tentang ayah. Padahal tentu saja, ayah bukan tipikal orang yang suka memiliki musuh. Setiap orang yang beliau temui dan kenal, selalu diperlakukannya secara baik.
Tetapi, wong namanya hidup. Pasti ada yang suka dan tidak suka. Untungnya, kebaikan-kebaikan, keramahan, kepedulian, keaktifan ayah yang selalu ayah lakukan, dapat menghapuskan stigma-stigma buruk itu.
Dari dua hal itu aku tahu.
Dari dua kepergian yang terlalu cepat itu aku mengerti.
Bahwa kita tidak bisa membuat semua orang menyukai kita, tetapi teruslah berbuat baik, teruslah menjadi baik. Karna melakukan kebaikan adalah kewajiban.
Selamat jalan, Pak Oyom
Selamat bertemu dengan Ayahku. Sampaikan salam, bahwa anak beliau di sini baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar