Nak, apa cita-citamu?


(1)

 

“Apa cita-cita kalian kelak?”

“Cita-cita saya ingin menjadi dokter, Bu.” Jawabku Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Yang ada di pikiran seorang anak kecil kala itu hanyalah bahwa dokter adalah orang paling mulia di mana mereka bisa mengobati siapapun yang sakit.

“Apa cita-cita kalian kelak?” Tanya Pak Guruku. Kala itu aku tengah duduk di bangku sekolah menengah pertama alias SMP.

“Oh saya ingin menjadi insinyur pertanian, Pak” Jawabku dengan lantang, tanpa tahu apa pekerjaan yang dilakukan oleh seorang insinyur pertanian. Yang ada dipikiranku saat itu adalah role modelku yakni kakak sepupuku yang berprestasi dan saat itu telah diwisuda dari salah satu universitas pertanian terbaik di Indonesia.

 

Lantas ketika duduk di bangku SMA, cita-cita itu kembali berubah.

 

“Cita-cita saya ingin bekerja di salah satu perbankan terbaik di Indonesia.”

(Ya. Menjadi seorang banker) Tidak bisa dipungkiri, penampilan yang selalu rapi, bersih dan cantik berseragam itulah yang membuatku tertarik menjadi seorang banker. Duduk membantu orang lain menjelaskan bagaimana cara mereka dapat menyimpan uang mereka dengan baik di tempatku.

 

Tapi lagi-lagi mimpi itu berubah ketika aku duduk di bangku perkuliahan. Mimpi menjadi seorang dokter, insinyur pertanian atau bahkan seorang banker sudah tak terlintas lagi di pikiranku. Semakin beranjak dewasa, seolah kita mengikuti air mengalir. Apa yang kita cita-citakan semasa kecil tak semulus dengan jalanan yang harus kita lalui. Menjadi seorang dokter sudah tak mungkin mengingat ketika masuk di penjurusan SMA aku terlalu jatuh cinta dengan mata pelajaran social, terutama Sosiologi. Menjadi seorang insinyur pertanian pun juga sudah tidak memungkinkan mengingat aku sudah tak lagi mempelajari mata pelajaran biologi, fisika dan tetek bengeknya yang aku benci ketika duduk di kelas satu SMA (itulah mengapa saat itu aku sangat bertekad untuk berprestasi dengan jalur Pengetahuan Sosial. Ya, aku berhasil menunjukkan kepada orang tuaku bahwa aku bisa menduduki peringkat paling atas di kelas hingga aku lulus SMA)

 

Dan ketika akhir semester di dunia perkuliahan, pikiran itu semakin dituntut untuk rasional. Aku ingin menjadi seorang penulis, pegawai pemerintahan (seperti halnya mimpi Almarhum Ayahku) atau bahkan aku bisa menjadi seorang pengusaha dengan banyak perusahaan dan karyawan 

Komentar

Postingan Populer